SESI KULIAH UMUM LEVEL 4 PEMBATIK 2024 : INOVASI PEMBELAJARAN DIGITAL DENGAN PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)
Pada hari Sabtu, tanggal 19 Oktober 2024 dilaksanakan kuliah umum level 4 PembaTIK 2024. Kuliah umum ini termasuk dalam kegiatan yang harus diikuti oleh para peserta level 4 PembaTIK 2024 (sahabat teknologi). Kuliah ini berlangsung dari pukul 14.00-18.00 WITA. Tema pada kuliah umum ini sangat menarik yaitu "Inovasi Pembelajaran Digital dengan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI)". Pada kuliah umum ini, hadir para narasumber hebat di bidang AI yaitu Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek), Dr. Yudhistira Nugraha, S.T., MCIT adv (Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbudristek), Dr. Ir. Eko Mursito Budi, M.T. (Tim Percepatan AI Institut Teknologi Bandung), Assoc. Prof. Dr. Andri Alamsyah, S.Si, M.Sc. (Dosen Telkom University), Dini Febriana (Guru SMP Negeri 2 Amlapura, Bali), Ulfah Niswatul Awaliya (Guru SMPN 240 Jakarta). Bertindak sebagai moderator adalah Dewa Made Yuda Andika (Duta Teknologi Provinsi Bali Tahun 2023) dan Dayu Dewi. Sedangkan moderator pada diskusi panel adalah Andika Faris (Duta Teknologi Provinsi Jawa Timur Tahun 2023).
Banyak sekali informasi dan ilmu yang saya dapatkan pada kuliah umum, terutama dalam hal pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam inovasi pembelajaran dan etika dalam penggunaan AI. Silahkan simak materi kuliah umum yang saya rangkum dalam catatan artikel ini.
PENGANTAR DARI KEPALA BLPT KEMENDIKBUDRISTEK (WIBOWO MUKTI, S.Kom., M.Si.)
Kuliah umum dibuka oleh Bapak Wibowo Mukti, S.Kom., M.Si selaku Kepala BLPT Kemendikbudristek. Dalam sambutannya, Bapak Wibowo Mukti menyampaikan bahwa PembaTIK merupakan kegiatan pengembangan kompetensi pendidik dalam belajar, mengajar, dan berkarya untuk mendukung terciptanya inovasi pembelajaran dalam implementasi kurikulum merdeka dengan mengedepankan pemanfaatan platform teknologi. Kegiatan PembaTIK dilaksanakan dalam 4 tahap, yaitu Level 1 Literasi, Level 2 Implementasi, Level 3 Kreasi, dan Level 4 Berbagi dan Berkolaborasi. Pada tahun 2024 ini, untuk PembaTIK level 1 Literasi telah diikuti oleh 319.743 peserta. Jumlah ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun 2023. Hal ini menandakan antusiasme yang luar biasa dalam peningkatan literasi digital para pendidik kita. Untuk pembaTIK level 2 implementasi telah diikuti oleh peserta sebanyak 157.395 peserta, dimana para peserta mempraktekkan kolaborasi digital dalam pembelajaran. Pada level 3 diikuti oleh 33.448 peserta yang berkreasi dengan media pembelajaran berbasis teknologi. Dan pada level 4 diikuti oleh 1.142 peserta yang akan berbagi inovasi dan juga praktik baik di bidang pembelajaran berbasis TIK.
Kuliah
umum ini berisi berbagai materi, informasi, pengetahuan, serta wawasan yang menarik, terupdate, dan terkini mengenai perkembangan AI untuk dunia
pendidikan. Bapak Wibowo Mukti juga menyampaikan garis besar materi yang akan diberikan pada kuliah umum.
Materi pertama yang akan disampaikan menyakup beberapa aspek yaitu bagaimana praktik baik upaya penyelamatan 700 bahasa daerah dengan menggunakan AI Language Model. Bahasa daerah di Indonesia adalah kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Namun, dengan semakin berkurangnya jumlah penutur asli, maka banyak bahasa di daerah ini terancam punah. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya kita dapat memanfaatkan teknologi AI melalui AI Language Model yang menjadi salah satu inovasi.
Peran guru dalam kurikulum merdeka bukan sekedar tentang memberikan pelajaran, tapi tentang menumbuhkan rasa ingin tahu, membangun karakter dan menanamkan nilai-nilai penting kehidupan, membantu anak-anak menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Semangat belajar juga harus seiring sejalan dengan kemajuan teknologi. Kita mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan global, memadukan pengetahuan, keterampilan, dan inovasi untuk masa depan yang lebih baik. Duta teknologi berperan penting dalam penyebaran praktik baik pemanfaatan platform teknologi, memajukan pendidikan Indonesia serta berperan sebagai jangkar teknologi pendidikan Indonesia.
Materi kedua mengenai data pendidikan untuk optimalisasi pemanfaatan AI. Pemanfaatan AI ini sangat efektif dalam pembelajaran dan bergantung juga pada data pendidikan yang tersedia. Materi ini akan membahas bagaimana data pendidikan yang ada seperti data siswa, asesmen, pola interaksi pembelajaran, dapat dioptimalkan untuk mendukung pemanfaatan AI. AI juga dapat digunakan untuk menganalisis data secara lebih mendalam sehingga membantu dalam membuat kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran, namun tetap memperhatikan kerahasiaan data, serta perlindungan data pribadi.
Materi ketiga adalah strategi pemanfaatan AI dalam pembelajaran dan penerapan etika AI untuk memastikan bahwa teknologi ini digunakan dengan cara yang bertanggung jawab. Meskipun AI memiliki potensi besar untuk merevolusi dunia pendidikan, namun penggunaannya harus dilakukan dengan strategi yang matang dan juga disertai dengan penerapan etika yang ketat. Dalam konteks pendidikan, strategi ini akan melibatkan integrasi AI dalam proses pembelajaran secara menyeluruh namun penting juga untuk memastikan bahwa penggunaan AI ini dilaksanakan secara etis.
Dalam diskusi panel, akan ada guru-guru yang telah berhasil memanfaatkan AI dalam pembelajaran, yang akan memberi inspirasi bagaimana teknologi AI bisa digunakan secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar dan ini merupakan kesempatan yang baik bagi peserta untuk belajar bagaimana AI ini bisa diterapkan di dalam kelas. Hal ini juga menjadi inspirasi panduan praktis tentang cara-cara iniovatif penggunaan AI untuk meningkatkan efektivitas dalam pembelajaran. Pada ujung program PembaTIK akan lahir 39 Duta Teknologi baru yang diharapkan akan menjadi jangkar teknologi pendidikan Indonesia dan mitra terdepan Kemendikbdudristek dalam mempercepat penguatan ekosistem digital pendidikan. Wibowo Mukti juga memberikan ucapan selamat kepada para peserta PembaTIK 2024 dalam berbagi berkolaborasi untuk bertransformasi menciptakan pendidikan berkualitas yang berkelanjutan.
KECERDASAN ARTIFISIAL (KA) DAN MASA DEPAN BAHASA DAERAH : PEMANFAATAN KECERDASAN ARTIFISIAL (KA) DALAM REVITALISASI BAHASA DAERAH DI INDONESIA (Prof. E. AMINUDIN AZIZ, M.A., Ph. D.)
Aplikasi saat ini yang dibuat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa antara lain Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) digital yang tahun ini sudah mencapai 200.000 entri. Selain itu juga aplikasi Sipebi, yaitu aplikasi penyuntingan ejaan Bahasa Indonesia yang sudah masuk pada versi kedua, untuk penyuntingan naskah berbahasa Indonesia. Aplikasi ini bisa didownload secara gratis pada aplikasi Halo Bahasa.
Perubahan teknologi berdampak pada perubahan bahasa. Keberadaan bahasa daerah terancam punah dengan berkurangnya jumlah penutur asli. Linguasfer adalah cara orang berbahasa yang relatif berbeda karena ditentukan oleh perubahan lingkungan yang berbeda. Perubahan teknologi secara cepat maka akan menghasilkan perubahan bahasa (linguasfer) secara cepat pula, begitu pun sebaliknya. Perubahan teknologi yang lambat akan menghasilkan perubahan bahasa secara lambat.
Teknologi mempengaruhi pola atau cara orang berkomunikasi. Tren kepunahan bahasa daerah ternyata bukan hanya dialami di Indonesia, tapi juga negara-negara lainnya. Dari 7.000 bahasa daerah di dunia, setiap dua minggu ada kepunahan 1 (satu) bahasa daerah menurut UNESCO.
Di Indonesia ada 718 bahasa daerah. Penggunaan bahasa daerah semakin menurun dari Generasi Z (Gen Z) ke bawah. Di Indonesia bagian timur, jumlah penutur asli lebih sedikit, tetapi jumlah bahasa daerah semakin banyak. Berbeda dengan Indonesia bagian barat, dimana jumlah penutur asli lebih banyak, tetapi jumlah bahasa daerah sedikit.
Dalam kajian vitalitas atau daya hidup bahasa daerah di Indonesia terdapat 87 bahasa daerah, terdapat 5 (lima) bahasa daerah yang dinyatakan mati, sedangkan 24 bahasa daerah masih dalam kategori aman, yang artinya penutur aslinya masih banyak.
Sumber data pada Kecerdasan Artifisial (KA) dalam revitalisasi bahasa daerah berasal dari penutur asli bahasa daerah tersebut. Data dimasukkan dengan cara mengisi aplikasi, yang di dalamnya sudah dilengkapi dengan lokasi penutur.
Semakin kesini, penggunaan bahasa daerah semakin berkurang. Berdasarkan data dari INOVASI, anak-anak kecil yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran ternyata hasilnya jauh lebih baik dan efektif dalam pelestarian bahasa daerah.
Keberadaan Kecerdasan Artifisial (KA) dalam revitalisasi bahasa daerah menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat membantu melestarikan budaya daerah, yaitu bahasa daerah. Mudah-mudahan hal ini memberi manfaat yang jauh lebih besar untuk kemajuan Indonesia.
DATA PENDIDIKAN UNTUK OPTIMALISASI PEMANFAATAN AI (Dr. YUDHISTIRA NUGRAHA, S.T., MCIT adv)
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Yudhistira Nugraha, S.T., MCIT adv, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbudristek. Beliau menyampaikan ada 3 (tiga) komponen AI yaitu Power Computing, Algoritma (LLM), dan Data. Saat ini, teknologi bukan menjadi beban, tetapi teknologi lahir untuk membantu manusia. Layanan AI saat ini sudah banyak dirasakan, mulai dari layanan pemrosesan text, pemrosesan suara, dan pemrosesan gambar.
Power computing sebagai salah
satu elemen dari AI, saat ini menjadi topik isu yang sedang berkembang. Chipset
yang saat ini ada, awalnya tidak didesain untuk AI purpose. Kemudian, chipset mulai
digunakan untuk AI.
Algoritma adalah cara berpikir, artinya AI dibuat oleh manusia. AI bekerja meniru hal-hal yang spesifik, Algoritma bisa me-replace (mengganti) sesuatu yang spesifik, tetapi untuk sesuatu yang umum, itu adalah hal yang sulit. Contohnya, AI bisa digunakan untuk mengoreksi tulisan apakah sesuai dengan EYD atau tidak pada saat melakukan proof reading. Sedangkan sesuatu yang umum, seperti wisdom (kebijaksanaan), sulit ditiru oleh AI.
Sedangkan untuk data, sumber dari AI adalah data. AI tidak ada apa-apanya tanpa data, AI is nothing without data.
Pendekatan AI secara umum ada 3, yaitu pendekatan sebagai problem solving agent (contohnya dalam menggunakan google map), knowledge based agent (berupaya untuk meniru), contohnya meniru keahlian dokter ahli syaraf atau kandungan. Dengan knowledge based agent bisa memberikan keputusan yang logis untuk menjawab berbagai pertanyaan, tetapi tetap membutuhkan pengecekan kebenaran, karena jawaban AI bisa jadi salah atau berhalusinasi. Pendekatan ketiga adalah learning based agent. Bagaimana pengetahuan bersumber dari data modelling yang ada, sehingga diharapkan bisa memberikan respon keputusan di masa depan.
Dalam kaitannya dengan tupoksi
Pusdatin, penggunaan AI dalam pengelolaan data dan statistik sangat penting,
karena AI tanpa data, tidak bisa berfungsi apa-apa. Di berbagai negara,
keunggulan mereka adalah saat negera tersebut bisa menyediakan berbagai
platform data.
Dalam pengembangan ekosistem data pendidikan, salah satu tantangannya adalah bahwa data tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga digunakan untuk pengembangan layanan publik, kemudian data digunakan untuk pembangunan, untuk pelayanan berbasis elektronik. Selain itu, bagaimana data dianalitik untuk menjadi bagian dari pengambilan kebijakan. Contohnya, dengan adanya data tadi, pemerintah jadi tahu berapa banyak sebenarnya kebutuhan guru di Indonesia, sesuai dengan profiling siswa di suatu daerah. Peran Pusdatin dalam hal ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi terpercaya.
Bagaimana Teknologi Melakukan Transformasi Pendidikan?
Hal ini terbagi menjadi 3 yaitu Sensing, Understanding, dan Acting. Sensing adalah merasakan. Bagaimana kita berupaya untuk mengumpulkan berbagai sumber data dan mengintegrasikan data. Kemudian setelah data terintegrasi, bagaimana kita memiliki kemampuan untuk memahami (understanding), yaitu kemampuan untuk analitik data, yang terdiri dari deskripsi analitik, diagnostik analitik, prediktif analitik, sampai dengan preskriptif (menyarankan tindakan yang harus diambil). Dari hasil analisis ini kemudian dibuat keputusan (acting). Ini menjelaskan bahwa teknologi didesain untuk tujuan tertentu (technology design by purpose).
Guru minimal memiliki kemampuan data scientist untuk bisa
mengolah data, dengan melakukan pendekatan sesuai dengan kompetensinya. Data tersebut bisa digunakan untuk intervensi di tingkat
sekolah. Selain itu, berdasarkan data, guru bisa melihat potensi yang ada pada siswa, sehingga bisa meraih visi
ke depan, yaitu menciptakan Generasi Emas 2045.
Tantangan sistem pengelolaan data pendidikan adalah kualitas data. Hal ini karena masing-masing sumber data belum tentu memiliki kualitas data yang sama. Selain itu, bagaimana membangun master data yang lengkap (komprehensif). Kemudian keluaran data, yaitu bagaimana penerapannya digunakan untuk pembangunan. Tantangan lainnya adalah analisis data dan akses data. Jika ingin membangun sebuah ekosistem data, maka kita harus membangun akses data yang bagus.
STRATEGI PEMANFAATAN AI DALAM PEMBELAJARAN DAN ETIKA PEMANFAATAN AI (Dr. Ir. EKO MURSITO BUDI, M.T.)
Materi ketiga dibawakan oleh Dr. Ir. Eko Mursito Budi, M.T., Tim Percepatan AI Institut Teknologi Bandung. Beliau menjelaskan bahwa basis model yang dibuat oleh AI berasal dari data, sehingga jawaban yang dihasilkan oleh AI bisa berubah-ubah karena terus melakukan adaptasi.
Pada revolusi industri 3.0, manusia bisa membuat berbagai tools untuk membantu kerja otot. Kemudian, dengan adanya industri 4.0, manusia bisa membuat alat untuk membantu otak.
Sebelum adanya AI, komputer hanya sampai pada level
menerapkan. Setelah adanya AI, level komputer sudah sampai level mencipta, walaupun
masih ada keterbatasannya.
Dalam siklus pembelajaran, guru bisa menggunakan AI pada tahap perencanaan, dan pelaksanaan. Pada tahap tersebut, AI aman untuk digunakan. Pada tahap evaluasi (check), penggunaan AI masuk kategori bahaya. Kemudian untuk mengolah nilai, tidak bisa menggunakan AI.
AI adalah power tools bagi otak, tetapi pahami dulu bahayanya (safety first) karena bisa memberikan jawaban yang salah. Gunakan AI agar lebih produktif, tetapi jaga etika (jika memang memakai AI). Kita memang bisa menggunakan AI, tapi tetap harus bertanggung jawab.
PRAKTIK BAIK PEMANFAATAN AI DALAM PEMBELAJARAN IPS (DINI FEBRIANA)
Pada sesi diskusi panel, diawali dengan pemaparan praktik baik oleh Ibu Dini Febriana, guru SMPN 2 Amlapura, Bali. Ibu Dini memaparkan tentang pemanfaatan AI dalam pembelajaran IPS. Hal ini dimulai dari pemanfaatan pada tahap perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.
Pada tahap perencanaan, AI digunakan untuk melakukan identifikasi kebutuhan peserta didik, pengembangan materi yang dipersonalisasi, pemilihan metode yang sesuai, dan memilih alat yang digunakan (platform, software). Hal yang harus diperhatikan terutama adalah dalam hal penulisan perintah/prompt. Tuliskan peran kita dan tuliskan tugas yang diinginkan secara detail perintahnya. Semakin detail, maka outputnya semakin sesuai dengan yang kita inginkan.
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, siswa dipandu untuk menggunakan AI saat menemui kesulitan dalam proses pembelajaran. AI juga digunakan untuk membantu dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai.
Pada tahap evaluasi, AI digunakan untuk membantu menganalisis hasil belajar, melakukan umpan balik terhadap pembelajaran,
menganalisis ranah yang harus diperbaiki oleh siswa, AI juga digunakan untuk membantu dalam membuat
rencana tindak lanjut (RTL).
Adanya AI dapat mengefektifkan waktu dan efisiensi di kelas. Dampak dan hasil yang diperoleh antara lain meningkatkan pemahaman individu, membantu peserta didik yang lambat belajar tanpa membuat peserta didik yang cepat dalam belajar merasa bosan. Hasil belajar lebih baik, karena materi relevan dengan kebutuhan peserta didik. Hampir 30% peningkatan pembelajaran di bidang IPS. Siswa meraih medali emas pada Olimiade Sains tingkat Nasional. Dampak yang dirasakan oleh guru adalah efisiensi dan efektifitas waktu, sehingga lebih fokus dalam membersamai murid-murid di dalam kelas.
PRAKTIK BAIK PEMANFAATAN AI DALAM PEMBELAJARAN KARTU MEMORI MENJODOHKAN JARINGAN HEWAN DAN TUMBUHAN (ULFAH NISWATUL AWALIYA)
Praktik baik kedua dipaparkan oleh Ibu Ulfah Niswatul Awaliya, guru SMPN 240 Jakarta. Ibu Ulfah membagikan praktik baik tentang pemanfaatan AI dalam pembelajaran kartu memori menjodohkan jaringa hewan dan tumbuham. Ide untuk menggunakan kartu memori, didapatkan dari Gemini AI. Kemudian kartu memori dibuat di aplikasi Canva. Dalam praktek penggunaannya, siswa menjodohkan kartu memori yang berisi gambar jaringan hewan dan tumbuhan dengan fungsinya masing-masing.
Dampak yang diperoleh, siswa semuanya aktif dan terjalin komunikasi yang aktif, sehingga pembelajaran terasa menyenangkan. Ibu Ulfah mengimbaskan praktik baik kepada guru-guru lainnya, sehingga SMPN 240 Jakarta mendapat kunjungan langsung dari Presiden Google, Ruth Porat.
AI UNTUK INOVASI PEMBELAJARAN (Assoc. Prof. Dr. ANDRI ALAMSYAH, S.Si, M.Sc)
Pemateri terakhir pada diskusi panel adalah Assoc. Prof. Dr. Andri Alamsyah, S.Si, M.Sc., dosen Telkom University. Beliau memaparkan tentang AI untuk Inovasi Pembelajaran. Menurut beliau, AI bukan hanya inovasi, tapi disrupsi, karena merubah. Murid mempunyai kecepatan dalam memahami materi yang berbeda-beda. AI bisa mendampingi siswa untuk menggali materi yang lebih dalam. AI berperan sebagai pendamping manusia. Supaya siswa bisa mencapai potensi maksimalnya.
Dalam panduan menggunakan AI sebagai bahan pembelajaran, pada saat siswa mengakses informasi di AI, ada godaan untuk mencomot hasil sebagai klaim bahan hasil penemuannya. Seharusnya, siswa memvalidasi terlebih dahulu kebenaran informasi tersebut, baru kemudian mengkonfirmasi dan dikumpulkan sebagai hasil analisis. Anak-anak harus bisa mempertanggungjawabkan hasil karyanya. Dengan menggunakan AI, guru bisa mencari pertanyaan-pertanyaan yang memunculkan daya kritis siswa.
SESI TANYA JAWAB
Bagaimana kita dapat menyeimbangkan penggunaan AI dengan pengembangan keterampilan soft skill murid?
Menurut Assoc. Prof. Dr. Andri Alamsyah, S.Si, M.Sc., Artificial Intelligence (AI) dan soft skill adalah dua hal yang berbeda. Soft skill dilatih saat kita berinteraksi sosial dengan orang lain. Soft skill bukan teoritical (hal yang bersifat teori). Sedangkan AI saat ini berhubungan dengan kekayaan pendalaman knowledge, bukan soft skill. Soft skill leadership, teamwork, kolaborasi sekarang belum bisa menggunakan AI. Keterampilan soft skill murid tidak bisa diperoleh dan digantikan oleh AI.
Bagaimana tips untuk menggunakan AI, apakah perlu pelatihan khusus?
Pemahaman tentang AI bisa diperoleh lewat pelatihan maupun komunitas belajar. Dibutuhkan pengetahuan kriteria pemanfaatan platform AI. Kita harus tahu fungsi, fitur, kelebihan dan kekurangan platform-platform AI. Kita juga harus bisa memilih AI sesuai dengan kebutuhan murid. Selain itu juga harus memasukkan prompt dengan jelas dan tepat agar sesuai dengan harapan guru dan kondisi murid (Jawaban Ibu Ulfah).
Bagaimana tips untuk menumbuhkan kesadaran etika dalam menggunakan AI kepada peserta didik?
Apa yang dihasilkan AI bukanlah karya kita, jadi jangan diklaim sebagai karya kita. Selanjutnya, kita harus memaksa murid untuk mengambil langkah yang lebih dalam untuk mensitesisnya, memverifikasinya dan mencocokknya dengan data lain, kemudian hal itu bukan hasil saya, tetapi hasil dari analisa ya (Prof Andri).
Tidak bisa semua hal dibagikan ke medsos, apalagi jika sesuatu hal yang rahasia, karena hal ini berbahaya. Data kita bisa dibobol, rekomendasi yang ada di feed medsos kita adalah hasil dari logaritma postingan yang sering kita bagikan dan searching. Kita harus bisa menjaga privacy, lebih bijak lagi dalam berinternet, agar lebih aman dalam berselancar di internet (Ibu Dini).
Bagaimana relevansi logis penggunaan AI dengan mengasah keterampilan berfikir kritis peserta didik?
Berfikir kritis adalah pondasi pendidikan kita. Hal ini dimulai dari knowledge yang banyak, dimulai dari sumber yang banyak. AI
menyediakan sumber yang banyak. AI memberikan berbagai macam alternatif skenario untuk menjawab suatu pertanyaan. Tetapi lebih utama semuanya didahului dengan
literasi. Jika literasi masih rendah, maka perbaiki dulu literasi (Prof Andri).
Setiap siswa memiliki ciri khas masing-masing. Bagaimana tips untuk mempertahankan ciri khas tersebut dan agar siswa tidak manja, bergantung pada AI, di tengah perubahan teknologi yang semakin canggih?
Siswa tidak dibiasakan untuk bergantung dengan AI sebagai sumber belajar. Biasakan siswa untuk mencari sumber belajar lainnya. Guru memberikan konten yang tepat, guru memahami karakter siswa. Tergantung konten yang disediakan, jadi jangan biasakan siswa untuk terus bergantung dengan AI. Guru harus bisa memfilter apa yang siswa cari (Ibu Dini dan Ibu Ulfah).
CLOSING STATEMENT
Kemajuan teknologi tidak bisa kita cegah. Kita harus bisa me-manage kebutuhan terhadap teknologi, sehingga meminimalisir resiko. Kita harus bisa mendampingi orang-orang sekitar kita untuk menggunakan AI secara bijak (Prof Andri).
AI adalah alat bantu yang dapat meningkatkan pembelajaran di kelas. Mari manfaatkan teknologi dengan sebaiknya secara maksimal untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif, kreatif, inovatif demi memajukan pendidikan bangsa (Ibu Dini).
AI adalah sahabat guru untuk membantu proses pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman. Mari kita manfaatkan AI agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menyenangkan, inovatif dan tentunya berkualitas.








0 Response to "SESI KULIAH UMUM LEVEL 4 PEMBATIK 2024 : INOVASI PEMBELAJARAN DIGITAL DENGAN PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) "
Posting Komentar